Pohon Cempedak

Lama. Kurang lebih dua puluh tahun.

Dulu. Di bawah pohon cempedak itulah tiap detik  kecil aku habiskan.Seorang.

Di situ juga bermulanya memori dan kenangan. Di situ aku ciptakan satu fahaman.

Hidup mati kita seorang. Hidup mati kita kerna Tuhan.

 

Ada buaian jaring mumuk jadi teman. Jadi pendengar tegar. Tanpa dondang. Tanpa dendang.

Tiap sandungan diisi esak tangisan. Beberapa kali, ada tawa, tapi dari desir angin yang membisik sindir.

Di atas dahan-dahan besar, aku panjatkan doa penuh keikhlasan. Bukan untuk masa depan. Tapi untuk semalam yang tidak boleh aku ubahkan, aku ulangkan.

Semuanya dirakam. Dalam banyak-banyak gambar semalam, yang itu masih jelas dalam ingatan.

Malah, ada semalam yang ku simpan sebagai angan-angan.

Pohon cempedak itu sudah ditebang. Tiada pohon. Tiada dahan. Luput kenangan. Luput harapan.

Yang masih bernyawa, hanya angan-angan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s